Pages

Rabu, 09 Januari 2013

DAMPAK GLOBALISASI BAGI PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA

Apa saja dampak globalisasi? Banyak sekali! Tetapi dalam ulasan kali ini saya batasi pada dampak-dampak kejiwaan dan kerohanian saja, mengikuti alur fokus seperti di atas.
Baiklah pertama-tama kita memahami dulu aspek-aspek penting arus globalisasi. Sebagaimana diketahui ada dua pakar tenar yang banyak mengupas ihwal gejala-gejala globalisasi atau megatrend. Kita mengenal pokok-pokok pikiran mereka lewat buku-buku laris (best-sellers) mereka. John Naisbitt terkenal karena menulis dua buku seputar soal Megatrend. Sedangkan Alvin Toffler antaranya menulis buku trilogi, yang masing-masing berselang waktu 10 tahun, berjudul: Future Shock, Third Wave dan Power Shift. Buku-buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan diterbitkan oleh P.T. Pantja Simpati, Jakarta
Yang saya petikan atau sarikan di bawah ini bersumber dari buku pertama triloginya, yang dalam terjemahannya berjudul Kejutan Masa Depan. Judul bukunya ini sebetulnya adalah judul pasal 15 dan 16, yang merupakan pasal-pasal pada Bagian Kelima, yang menurut hemat saya merupakan inti ulasannya yang terbaik dalam buku ini. Adapun Bagian Kelima berjudul "Batas Kemampuan Adaptasi": pasal 15 melihatnya dari Dimensi Fisik dan pasal 16 dari Dimensi Psikologis. Dalam memaparkan pendapatnya, ia mengacu pada aneka disiplin ilmu pengetahuan, dan merangkum hasil-hasil penemuan ilmiah yang up to date (tentu saja sampai tahun 1970 saat buku itu ditulis).
Pertama. Manusia memiliki kemampuan melakukan adaptasi, baik secara biologis maupun secara psikologis, dan juga secara kultural. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa manusia (dan organisme lainnya) senantiasa harus berinteraksi dengan lingkungannya341 (alam dan sesama manusia). Dari lingkungannya itu ia senantiasa menerima, aneka "rangsangan" atau "stimulasi" terhadap tubuh dan dirinya.
Kedua. Respons manusia terhadap rangsangan oleh para ahli psikologi eksperimental disebut "respons orientasi" (orientation response, OR).342 Dalam hal ini adrenalin dan non adrenalin lalu bekerja, yang berfungsi sebagai energi tertentu. Dalam kaitan dengan area modernisasi maka banyak sekali hal yang serba baru (kebaruan, noverity). Dengan demikian, jumlah rangsangan kian banyak dan jumlah suplai bahan pelepas energi (energy releasers) pun kian meningkat.
Ketiga. Kalau daya "respons orientasi" tak lagi dapat mengatasi arus rangsangan yang serba baru dan bertubi-tubi, maka manusia melakukan apa yang Toffler sebut sebagai "reaksi adaptif".
... Reaksi ini berkaitan erat dengan OR. Memang kedua proses ini sangat rapat terjalin sehingga OR dapat dianggap sebagai bagian atau fase awal reaksi adaptif yang lebih besar dan luas cakupannya. Namun, apabila OR terutama didasarkan atas sistem saraf, reaksi adaptif banyak tergantung pada kelenjar endoktrin dan hormon yang dialirkannya ke dalam tubuh. Garis pertahanan yang pertama adalah saraf; yang kedua hormon.343
Jadi, setiap perubahan, artinya setiap menghadapi sesuatu yang baru atau asing, misalnya memasuki kota yang baru, bahkan rumah atau ruangan baru, menuntut adanya energi OR dan reaksi adaptif. Apalagi kalau sebuah desa terpencil namun cukup kaya, tiba-tiba kebanjiran pesawat televisi beserta antena parabolanya. Yang menuntut energi OR dan reaksi adaptif bukan semata rangsangan perangkat TV saja, tetapi terutama juga isi siaran yang ditayangkannya. "Demikianlah kebaruan setiap kebaruan yang dapat di indera - memetik aktivitas eksplosif di dalam tubuh ...344 perubahan yang kecil pun dalam iklim emosional atau dalam hubungan antarpribadi, dapat menimbulkan perubahan yang jelas dalam kimia tubuh"345 Bahkan "...antisipasi perubahan saja dapat memicu reaksi adaptif"346
Keempat. Dapat disimpulkan bahwa ada batas kemampuan adaptasi. Manusia toh merupakan "...suatu biosistem dengan kemampuan terbatas terhadap perubahan,"347 khususnya juga terhadap kebaruan-kebaruan. Akibat semua itu manusia lalu mudah terkena atau mengalami aneka macam "sutris" atau "stress".
Kelima. Tetapi seiring dengan itu patut dimunculkan pula kesimpulan kebalikannya. Yaitu bahwa manusia juga tidak bisa hidup tanpa perubahan sama sekali.
"...Tak seorang pun dapat hidup tanpa mengalami stress sama sekali sampai batas tertentu, "tulis Dr. Selye. Meniadakan OR dan reaksi adaptif sama artinya dengan meniadakan segala perubahan termasuk pertumbuhan, perkembangan diri, dan pendewasaan.... Perubahan tidak hanya perlu dalam kehidupan; perubahan adalah kehidupan itu sendiri. Begitu pula halnya, kehidupan adalah adaptasi.348
Keenam. Kesimpulan dari keseluruhan makna Kejutan Masa Depan dapat diringkas dalam kalimat berikut ini. "Kejutan masa depan merupakan respons terhadap stimulasi lanjur (overstimulation)."349 Toffler misalnya menyebut juga ihwal "Muatan lanjur Informasi" (information overload) dan "stimulasi lanjur desisional" (decisional overstimulation);350 yakni rangsangan pengambilan keputusan yang berlebihan.
"Muatan lanjur informasi" terjadi kalau terlampau banyak informasi yang harus kita serap, antaranya lewat siaran-siaran TV (antaranya acara Dunia dalam Berita, misalnya, yang menayangkan aneka peristiwa peperangan, bencana alam, kecelakaan, penderitaan dan lain sebagainya) dan juga lewat bahan bacaan: koran, majalah, buku.
"Muatan lanjur desisional" terjadi kalau seseorang misalnya terlampau banyak memegang jabatan: sebagai ketua ini, penulis itu, bendahara anu. Seorang bijak pernah berkata bahwa jumlah maksimum jabatan atau fungsi yang diemban seseorang ialah tujuh!
Kalau kita sebagai orang-orang yang relatif sudah lebih dewasa merasa agak "kewalahan" menampung arus "banjir informasi" (serta "kecamuk muatan lanjur desisional"), apalagi anak-anak dan remaja. Dalam surat kabar Jawa Pos, minggu 14 Februari 1993, dimuat suatu berita yang layak kita camkan, dan karenanya saya kutip di bawah ini sebagai bahan kajian refleksif.

0 komentar:

Poskan Komentar